oleh

Belasan Pengusaha Top Jambi Terseret dalam Kasus Gratifikasi Mantan Plt Kadis PUPR

JAMBI- Sejumlah pengusaha ternama dan politisi kondang di Jambi terseret dalam pusaran kasus gratifikasi yang menjerat mantan Plt Kadis PUPR Provinsi Jambi, Arfan dan mantan Gubernur Jambi Zumi Zola. Diantaranya, Ismail Ibrahim alias Mael, Rudy Lidra dan Joe Fandy Yoesman. Nama mereka disebut dalam dakwaan Arfan sebagai bagian 18 pengusaha yang penyetor atau sumber dana gratifikasi.

Sementara politisi yang terseret , diantaranya Apif Firmansyah, mantan asisten pribadi Zumi Zola yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jambi dari Partai Golkar. Apif disebut  turut serta menerima  gratifikasi.

Dakwaan Arfan itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang perdana di Pengadilan Tipikor Jambi, Rabu (2/9) . Sidang yang dilaksanakan secara daring itu dipimpin Yandri Roni sebagai hakim ketua didampingi dua hakim anggota Adly dan Amir Aswan.

Dalam dakawan yang dibacakan Jaksa KPK Tonny F Pangaribuan disebutkan Arfan selaku Kepala Bidang Bina Marga dan sebagai Plt Kadis PUPR bersama-sama dengan Zumi Zola selaku Gubernur Jambi periode 2016 – 2021 (telah diputus dalam berkas perkara terpisah), Asrul Pandapotan Soihotan dan Apif Firmansyah telah melakukan atau turut serta menerima gratifikasi. Jumlah dana yang diterima Arfan senilai Rp7,1 Miliar, USD30 ribu dan SGD100 ribu.

BACA JUGA:  Ditkrimsus Polda Jambi Jambi Rekam Ribuan Percakapan Terkait Pilkada

Uang-uang itu dia terima dari 18 orang pengusaha di Jambi dalam kurun waktu antara Februari hingga November 2017. Rinciannya, dari Endria Putra sebesar Rp 1.500.000.000 dan Rp200.000.000, Rudy Lidra Amidjaja Rp 1.000.000.000 dan Rp Rp 350.000.000. Lalu dari Agus Rubiyanto Rp 500.000.000, dari Joe Fandy alias Asiang sebesar USD30,000, Hardono alias Aliang Rp 1.400.000.000, dan SGD100,000, dan dari Ali Tonang alias Ahui sebesar Rp. 250.000.000.

Kemudian dari Andi Putra Wijaya sebesar Rp 250.000.000, dari Yosan Tonius alias Atong, Rp100.000.000, dari Ismail Ibrahim alias Mael sebesar Rp 300.000.000, dari Paut Syakarin Rp 200.000.000, dari Musa Efendi Rp100.000.000, dan dari Muhammad Imanuddin alias Iim sebesar Rp 100.000.000.

BACA JUGA:  Razia Gabung, Polisi dan TNI Tutup 65 Sumur Minyak Ilegal

Selain itu, Arfan Cs juga menerima uang dari Kendrie Aryon alias Akeng Rp 100.000.000, dari Timbang Manurung Rp 100.000.000, dari Widiyantoro Rp 150.000.000, dari Sumarto alias Aping Rp 150.000.000, dan dari Komarudin dengan jumlah keseluruhan, USD30,000 dan SGD 100,000.

Uang tersebut diterima di kantor Dinas PUPR Provinsi Jambi, basement kantor Cabang Utama Bank BCA jalan Dokter Sutomo No 50A, Kecamatan Pasar Jambi Kota Jambi, rumah terdakwa di Kompleks BTN Kotabaru, Jambi, Hotel Amaris Muaro Bungo, Jalan Hoktong Kota Jambi, serta Jalan Bararau II, Kota Jambi.

Menurut jaksa KPK, terdakwa mengetahui atau patut menduga bahwa penerimaan uang tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan Zumi Zola selaku Gubernur Jambi melalui Terdakwa. Dana tersebut disetor  para pengusaha tersebut dengan imbalan mendapatkan paket pekerjaan/proyek pada Dinas PUPR Provinsi Jambi Tahun Anggaran 2017.

BACA JUGA:  Tingkatkan Literasi dan Inklusi Pasar Modal, CMSE 2020 Digelar Virtual

Perbuatan Terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 12 B UndangUndang Republik Indonesia Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana juncto Pasal 65 ayat (1) KUHPidana.

Atas dakwaan JPU tersebut, Arfan melalui penasehat hukumnya Helmi mengatakan akan mengajukan eksepsi. Sidang akan dilanjutkan Kamis (10/9) pekan depan dengan agenda eksepsi dari terdakwa. ‘’Setelah kami pelajari dan konsultasikan, terdakwa akan mengajukan eksepsi. Ada beberapa poin yang ingin kami sampaikan,’’ katanya.

Menurut Helmi, kliennya Arfan pada intinya ingin menyampaikan sesuatu. Diantaranya

jumlah uang yang dia terima tidak sebanyak itu. ‘’Dak sampai Rp 7 Miliar dia terima. Kedua mengapa perkara dia tidak digabungkan dengan yang pertama,’’ katanya.(Yuf/jambione.com)

 

Komentar

News Feed