JAMBI – Hingga saat ini, Pasar Pelayangan yang berada di Seberang Kota Jambi semakin tidak terurus. Sejak ditinggal oleh pedagang lima tahun lalu, kondisi pasar cukup memprihatinkan. Banyak lumut yang mulai tumbuh di sepanjang kios yang tak berpenghuni tersebut.
Sejak diresmikan pada Mei 2016 lalu, pemerintah sepertinya belum memiliki solusi agar pasar tersebut dapat difungsikan. Pemerintah saat ini sedang mencari solusi untuk menghidupkan kembali pasar yang dibangun di atas tanah seluas 3.861 meter persegi tersebut.
Kadis Perdagangan dan Perindustrian (DPP) Kota Jambi, Komari menyebutkan, pasar tersebut akan beralih fungsi.
Pasar tersebut rencananya sebut Komari akan beralih fungsi menjadi Pasar Kerajinan. Pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Kecamatan Pelayangan.
“Insya Allah. Akan beralihfungsi dari Pasar Rakyat menjadi Pasar Kerajinan,” sebutnya.
Namun memang dijelaskan Komari, hal ini masih akan dikaji ulang. Salah satu alasan pasar tersebut akan beralih fungsi, karena kondisi jalan di sana sudah lebar.
“Kalau dulu kan masih kecil, warga juga jarang ke sana. Pedagang pun jika tidak ada pembeli, juga tidak mau berjualan,” jelasnya.
Saat disinggung mengenai pembangunan Pasar Pelayangan terkesan mubazir, Komari tidak berkomentar lebih banyak. “Kalau mubazir, saya pikir memang belum dapat dimanfaatkan. Tapi tetap kita upayakan untuk ditempati, alasannya ya itu tadi,” bebernya.
Lebih lanjut, mengenai kondisi pasar itu sendiri, Komari menjelaskan memang butuh direnovasi. Karena terdapat beberapa bagian bangunan yang retak dan atap yang bocor.
Pernah diberitakan sebelumnya, hingga tahun 2020 lalu, maski Pasar Pelayangan sempat dipakai untuk kegiatan jual beli. Namun hal itu hanya bertahan beberapa sebulan saja. Kemudian kembali meredup.
Bahkan bangunan Pasar Pelayangan sendiri terlihat suram dan sepi. Pasar Pelayangan dibangun dengan anggaran miliaran rupiah. Bangunan tersebut memiliki fasilitas seperti kantor pengurus pasar, lahan parkir, belasan kios, puluhan lapak dan toilet.
Meski DPP Kota Jambi tidak membebankan biaya sewa lapak, namun masih belum ada ketertarikan masyarakat untuk melakukan aktivitas jual beli di sana.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi II DPRD Kota Jambi Sutiono mengatakan bahwa agar pemerintah segera mencarikan solusi, supaya pasar itu bisa difungsikan.
“Pemerintah kota Jambi kan memiliki program 1 Kecamatan 1 pasar, maka pasar-pasar yang ada harus dioptimalkan. Apalagi saat ini pemerintah gencar menertibkan pedagang kaki lima (PKL) yang tidak memiliki izin. Tentu mereka bisa dialihkan kesana, daripada harus jualan ditempat yang tidak legal, dan sering diusir petugas,” katanya.
Sutiono mengatakan bahwa OPD terkait yang mengurus tentang pasar tidak mempunyai pemetaan dan perencanaan yang matang.
“Pasar itu dibangun untuk siapa dan untuk apa, peruntukannya itu tidak jelas. Hanya asal membangun tapi tidak punya perencanaan yang matang,” ujarnya, dilansir dari jambione.com grup siberindo.co.
Dikatakan Sutiono, seharusnya pasar tersebut bisa difungsikan untuk pusat kuliner, pasar ikan hias, pasar perternakan dan lainnya. Menurutnya pasar yang dibangun menggunakan APBD seharusnya difungsikan dan ditempati oleh pedagang dan tidak dibiarkan terbengkalai.
“Kedepan seharusnya pembangunan pasar itu disesuaikan dengan kultur masyarakat dan tempatnya. Sehingga bisa menjadi tolak ukur atau Ikon. Kita minta kedepan harus punya perencanaan yang matang, jangan asal bangun,” pungkasnya. (*/cr1)











Komentar