oleh

Ke Kerinci Aku Kan Kembali… Nikmatnya Nasi Ibat dengan Gulai Nangka (1)

Mediajambi.com – Berkunjung ke Kerinci tak pernah membosankan. Negeri yang indah pemandangan alamnya, beragam kekayaan budayanya dan kulinernya yang menggoda. Sekepal tanah surga dijatuhkan Allah di negeri ini. Namun jika tak tergarap dengan baik, tak dikelola dengan benar akan menjadi tanah surga yang tercampakan sia sia.

Entah sudah berapa kali, saya berkunjung ke Kerinci. Selalu saja ada hasrat untuk datang datang dan datang lagi kesini. Meski harus menempuh perjalanan sekitar 10 jam melewati empat kabupaten dan jalan berliku liku.

Tanggal 15 hingga 17 Agustus 2020, saya dan teman teman wartawan kembali menginjankkan kaki ke Bumi Sakti Alam Kerinci. Kami diundang oleh Ketua PWI Provinsi Jambi, H Ridwan Agus yang mengadakan haul, mendoakan almarhum isteri tercinta beliau Hj Murni di kampung halamannya, Desa Lempur Danau Kecamatan Keliling Danau Kerinci..

Ritual keagamaan yang dikemas dalam acara adat setempat, menjadi daya tarik tersendiri. Malam sehari sebelum acara, kesibukan warga sudah terlihat. Ketika kami tiba, langsung disambut makan malam, gulai daging sapi dengan nasi yang hangat. Suasana yang dingin, sembari menyerumput segelas kopi Kerinci yang nikmat membuat lelah perjalanan sepanjang 424 km selama hampir 10 jam tak terasa. Bagi masyarakat Kerinci, menjamu makan tamu yang naik ke atas rumah merupakan sebuah tradisi.

Esoknya acara cukup meriah. Bupati Kerinci, H Asyafri Jaya Bakri, tokoh masyarakat, Tuo tengganai dan warga serta undnagan duduk bersama. Dimulai dengan pembacaan seloko adat…berbalas pantun oleh tetua masyarakat setempat dan pengajian. Berbagai nasehat terurai melalui pantun berbahasa Kerinci.

Acara dipisah, ada pengajian khusus bapak bapak, dilanjutkan pengajian ibu ibu. Setelah acara, semua menikmati hidangan yang tersedia. Nasi ibat (Nasei Ibeak) atau nasi bungkus dan gulai nangka menjadi hidangan khas Kerinci.

Nasi ibat adalah nasi putih yang dibungkus dengan daun pisang, biasanya menggunakan beras payo yang pulen. Ketika dibuka, nasi itu mengeluarkan aroma harum.

Nasi ibat dimakan dengan hidangan gulai nangka yang dipotong cukup besar, namun terasa lembut. “Memang dipotong besar supaya tidak hancur,” kita seorang ibu. Gulai atau rendang nangka merupakan menu khas yang selalu ada di setiap acara.
Hidangan dihamparkan di atas tikar dan setiap orang mendapat satu bungkus nasi ibat dan satu piring rendang nangka daging. Udara yang sejuk, dan waktu makan yang pas di siang hari membuat nasi dalam porsi cukup besar itu ludes.

Tradisi makan nasi Ibat yang merupakan khas masyarakat Kerinci sangat menarik dan merupakan kekayaan budaya lokal daerah yang harus dilestarikan. Karena tersimpan nilai kebersamaan, siapapun, pejabat tinggi, Tuo tengganai, maupun rakyat bisa menikmati hidangan yang sama. Bermakna Seiya sekata, seiring sejalan dalam membangun negeri tercinta. (Lin)

Komentar

News Feed