MUARA BUNGO – Gas LPG ukuran 3 kilogram di Kabupaten Bungo banyak dijual tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
HET yang ditetapkan untuk gas LPG 3 Kg yakni sebesar Rp 17 ribu per tabung.
Namun kondisi di lapangan tidak ditemukan harga yang sesuai dengan HET tersebut.
Selain harga yang melambung tinggi, warga juga kesulitan mendapatkan gas 3 Kg, baik di pangkalan maupun di tingkat pengecer.
Menurut informasi, tingginya harga gas disebabkan ulah oknum pangkalan nakal, yang sengaja menjual kepada pengecer, sehingga warga kesulitan mendapatkan gas di pangkalan, sementara harga yang dijual pengecer melambung tinggi.
Diketahui, pangkalan menjual paling rendah Rp 20 ribu pertabungnya, sementara HET hanya Rp 17 ribu. “Rato-rato gas 3 Kg memang dijual Rp 20 ribu,” kata Reni, pemilik pangkalan gas Difa 2.
Menurut Reni, dirinya berani menjual diatas harga HET dikarenakan pangkalan lain juga menjual dengan harga yang sama. “Yo camanolah lagi lah, yang lain jugo jual segitu,” ungkapnya.
Sementara untuk harga jual gas LGP 3 Kg di toko-toko jauh lebih tinggi, mencapai 27 ribu sampai 30 ribu pertabung, seperti dilansir dari .
“Kalau di toko-toko harganya mencapai Rp 30 ribu, di pangkalan cuman Rp 20 ribu,” kata Ayu, warga Cadika, Kecamatan Rimbo Tengah, Rabu (23/2/2021).
Tinggi dan sulitnya mendapatkan gas ini membuat ormas Solidaritas Peduli Orang Kecil (SPOK) Kabupaten Bungo turun ke lapangan untuk menegur beberapa pangkalan.
Ketua Harian SPOK, Iqbal menyebut, baru-baru ini pihaknya telah menegur pangkalan gas Difa 2 agar menjual gas sesuai dengan HET.
“Kita minta kepada semua pangkalan untuk menjual gas sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah dan Pertamina,” ungkap Iqbal. (*/cr1)











Komentar