oleh

Lamunan Pedagang Nasi Goreng, Telan Rindu Melawan Covid-19

Oleh: Hendry Nursal

OPINI – Seperti malam-malam biasanya lelaki paruh baya duduk menikmati segelas kopi dipelataran belakang kontrakan setiap pulang hingga dinihari dari berdagang nasi goreng bersama sang istri dan anak lelakinya nomor dua, sementara anak tertua serta si bungsu berada di rumah.

Satu pagar area belakang menyatu bersama 10 pintu kontrakannya, kami tepat bersebelahan dinding. Membuka pintu depan hingga aktivitas di kamar mandi dapat terdengar saat larut malam. Kami jarang berjumpa, dia pulang rata-rata pukul: 02.00 Waktu Indonesia Barat (wib), bergegas di pagi hari menuju pasar membeli kebutuhan dagang. Tak terdengar, setelah itu dia sepertinya melanjutkan tidur sesaat, lalu barulah ada aktivitas memasak untuk dagangan. Kemudian pukul: 17.00 wib menuju lokasi dagangan yang berjarak kisaran 5 kilometer atau sekira 15 menit durasi tempuh menggunakan dua kendaraan bermotor miliknya.

Sehingga minim sekali perjumpaan kami, hanya saja sejak diumumkan kasus pertama tanggal 2 Maret 2020 di Indonesia dan 23 Maret 2020 di Provinsi Jambi, perjumpaan kami lebih sering dan lebih lama. Itu seperti kebiasaan sebelumnya, pembicaraan tidak banyak, intensitas saya di perangkat gawai (gadget) ataupun Komputer jinjing (Laptop) begitu tinggi.

Baca Juga  Relakan Uang Sendiri, Pejuang Kesehatan dari Belahan Timur Provinsi Jambi

Namun malam ini berbeda, malam ini terlihat penuh renungan tergambar dari raut wajahnya, jauh mata memandang begitu dalam pikirannya menjelajah angkasa. Sesekali dia melirik purnama yang begitu terang bercahaya berteman langit cerah malam. Tidak terlihat awan, hanya kerlipan bintang disekitar kemolekan dan cantiknya purnama bersama alunan kecil suara kendaraan dikejauhan.

Malam yang tenang, tanpa sedikitpun desiran tiupan angin, tetapi kesejukan suhu tetap terasa menusuk, hal wajar karena jarum jam telah menyentuh pukul: 01.00 wib. Pria yang biasa kami sapa Pak de’ tak sedikitpun gentar, tanpa berbaju walau suhu terasa tajam.

Baca Juga  Blackpink, Kaum Muda dan Nasionalisme

Mungkin biasa bagi dirinya, bukankah sebelumnya jauh lebih larut malam, tercepat pukul: 02.00 wib terkadang hingga pukul: 03.30 wib baru sampai di rumah. Menyesuaikan habis belumnya dagangan, atau karena akhir pekan.

Dibawah tumpahan cahaya purnama, Pak de’ sembari melihat kebun kecil berisi tumbuh-tumbuhan yang dirawatnya bersama Bu de’, berisi berbagai sayur mayur, cabe, pisang dan beraneka ragam tanaman hias. Ini menjadi penghibur waktunya, sebab pukul: 21.00 wib sudah pulang dari aktivitas satu-satunya untuk mencari rezeky, bahkan terlihat sering berada di rumah.

Tapi satu pertanyaannya yang tidak pernah berubah, setiap berjumpa dengan saya yaitu bagaimana perkembangan terkini kondisi Covid-19 di provinsi Jambi. Ketika saya sampaikan ada penambahan kasus, terselip rasa khawatirnya beriring dengan do’a agar wabah ini segera berakhir, Jika tidak ada penambahan kasus, tersenyum mewarnai wajah lelaki yang tidak pernah patah keinginan dan semangat menanti pandemi berakhir. Hanya rona wajah tanpa kata dengan sedikit anggukan kepala setiap mendengar penjelasan saya.

Baca Juga  Patriotisme untuk Pilkada

Awal pandemi, dia begitu terpukul dia tidak bisa berdagang ketika adanya aturan adanya jam malam. Pergi berdagang pulang dengan hasil yang merontokkan semangatnya, “rasanya tidak masuk dengan pengeluaran dan modal untuk berdagang, sementara waktunya sangat singkat. Biasanya didapat hingga 300ribu per malam, saat ini saya pernah hanya ada yang beli satu bungkus. Jadi ya sesekali saja,” Ujarnya bercerita.

Impian untuk pulang ke pulau Jawa di momen lebaran hari raya Idul fitri tertunda, rasa rindu akan kampung kelahiran harus dipendam lebih jauh dari benaknya.

 

Artikel ini telah tayang di Jambidaily.com
Judul Lamunan Pedagang Nasi Goreng, Telan Rindu Melawan Covid-19
Klik disini untuk baca selengkapnya: https://jambidaily.com/2020/10/04/lamunan-pedagang-nasi-goreng-telan-rindu-melawan-covid-19/

Komentar

News Feed